Sistem keamanan Siber Akan Lumpuh jika tidak di bangun intens

 

beritakin.com. Jakarta – Negara dinilai bisa mengalami kelumpuhan jika sistem keamanan siber lembaga pemerintah tidak dibangun secara intens. Pasalnya pertahanan siber kini menjadi perhatian sejak kasus Bjorka mencuat.

Demikian disampaikan Anggota Komisi I DPR, Dave Laksono dalam Gelora Talks bertajuk Bjorka dan Ancaman Kedaulatan Digital Kita yang disiarkan secara daring, Rabu (21/9/2022).

Dave mengatakan, ribuan bahkan jutaan kasus kebocoran data terus terjadi, baik dari sisi tindak kriminal hingga untuk keperluan komersil.

“Kita lihat romantisme film tentang bagaimana negara dilumpuhkan oleh hacker, itu mungkin bisa terjadi bila keamanan firewall masing-masin lembaga tidak dibangun secara intens,” ujar Dave.

Sementara itu juru Bicara BIN Wawan Purwanto mengatakan tak ada dokumen BIN yang bocor. Dia menjamin kerahasiaan segala dokumen milik BIN.

“Hoaks itu. Dokumen BIN aman terkendali, terenkripsi secara berlapis, dan semua dokumen pakai samaran,”ucap Wawan dalam diskusi yang sama.

Wawan menjelaskan dokumen yang dikirim ke presiden juga istimewa. Dokumen itu dilengkapi kripto atau sandi yang berubah setiap saat demi menghindari kebocoran data.

Seperti diketahui, melalui laman Twitter peretas yang menyebut dirinya Bjorka, membocorkan dokumen surat rahasia dari Badan Intelijen Negara (BIN) kepada Presiden Joko Widodo. Bjorka juga menyebarkan data pribadi yang diduga milik sejumlah pejabat publik, dari mulai Ketua DPR Puan Maharani, Menteri BUMN Erick Thohir, Menkominfo Johnny Gerard Plate, sampai Dirjen Aptika Semuel Abrijani Pangerapan.

Selain itu, Bjorka pun mengklaim mengantongi 1,3 miliar data registrasi kartu SIM setara 87 GB. Data itu berisi nomor induk kependudukan (NIK), nomor telepon, serta operator seluler yang digunakan dan tanggal penggunaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here