Perjalanan Intelijen Santri, Memperbaiki Citra Intelijen

JAKARTA, beritakin.com | Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) menggelar seminar bedah buku Perjalanan Intelijen Santri karya Wakil Kepala BIN 1999-2009 KH As’ad Said Ali yang saat ini merupakan Rais Syuriyah PBNU 2022-2027, Rabu (9/2), di Kampus Salemba Jakarta.

KH As’ad Said Ali menyampaikan tujuan penulisan buku ini untuk memperbaiki citra intelijen yang negatif karena Belanda selalu mengawasi rakyat demi kepentingan kekuasaan. Begitu juga Orde Baru menggunakan aparat intelijen untuk kepentingan politik kekuasaan.

Dalam Bahasa Arab, Intelijen adalah Mukhabarat dan Istikhbarat yang berarti mencari informasi, tidak seperti tajassus yang berkonotasi negatif. Intelijen adalah kecepatan dan kecerdasan.

“Yang penting memiliki akses untuk mendapatkan informasi,” kata Kyai As’ad.

Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015 ini menjelaskan peristiwa pembebasan jurnalis Metro TV Mutia Hafiz (Ketua Komisi I DPR RI saat ini, red) menggunakan Ulama Network, sayangnya tidak dicantumkan dalam buku ini.

“Saya tidak berangkat, tapi menggunakan komunikasi jaringan para tokoh (Ulama Network), dibantu Gus Dur, yang mengerti betul kondisi Irak,” jelasnya.

Dinas intelijen Inggris M16 pernah meminta tolong BIN untuk membebaskan 60 WN Inggris di Yaman, dan berhasil menemukan dalam tempo 6 (enam) bulan dari target waktu 1 (satu) tahun.

“Saya menanam seorang hafidz (yang hafal) Al Qur’an di Ma’had beraliran Salafi di Yaman,” jelas alumni HI UGM ini.

Ketua Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, SKSG UI Yon Mahmudi, Ph.D menjelaskan bahwa melalui buku ini kita dapat memahami karakter budaya Bangsa Arab yang walaupun cepat marah, juga cepat memaafkan.

“Buku ini kaya informasi bisa diajarkan dalam 3 (tiga) sampai 6 (enam) SKS. Mahasiswa dapat belajar dalam bimbingan dosen kepada KH As’ad di rumah beliau,” imbuhnya.

“Kalau bisa difilmkan, Pak Kyai ! Agar dapat dipahami pesan-pesannya secara visual dalam buku yang tebal ini,” pintanya.

Direktur Timur Tengah Kementerian Luar negeri RI, Bagus Hendraning Kobarsyih, M.Si mengatakan pihaknya sudah membeli buku ini sebagai nostalgia karena pernah ditugaskan bersama KH As’ad Said Ali di Yaman. Diceritakannya di Yaman membaca senjata seperti senapan AK-47 seperti membawa celurit di Madura.

“Beliau adalah The Living Legend. Isi buku-buku beliau, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang terpendam,” jelasnya.

Banyak hal terkait terutama Timur Tengah yang selama ini tidak diketahui publik luas, diungkap oleh KH As’ad Said Ali.

“Saya baru sadar kenapa Turki dan Rusia sangat berpekentingan dengan bagian utara Suriah, karena kaya minyak dan terdapat jaringan pipa minyak” katanya.

“Lompatan budaya ini sangat mempengaruhi pribadi Pak Kyai. Maka dari itu, pengantar Pak Fachri Aly akan membantu memahami kenapa seorang santri menjadi seorang intelijen,” pungkasnya.

Direktur Pascasarjana Universitas NU Jakarta, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban menjelaskan bahwa intelijen memiliki fungsi penting dalam pertahanan, ketahanan dan resolusi konflik. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki sistem intelijen yang kuat.

Ulama Network tidak bisa diremehkan dalam resolusi konflik. Salah satu contoh adalah peran KH As’ad Said Ali dalam membebaskan belasan WN Korea Selatan yang disandera oleh Taliban,” jelas alumni Lirboyo ini.

Ulama Network dapat digunakan sebagai soft power dalam diplomatik. Kitab-kitab para Ulama Nusantara dalam menjadi alat untuk pendekatan kepada negara-negara Arab,” pungkasnya. (PR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here