Jakarta, beritakin.com |  Dukungan dan peran serta masyarakat di tingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW) dan seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu menjadi spirit dalam menangani pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Abdul Kharis Almasyhari mengatakan bahwa spirit gotong – royong dalam menangani pandemi Covid-19 harus tetap dipertahankan sebagai ciri khas budaya masyarakat di tanah air.

“Sebelum ada Covid-19 masyarakat selama ini abai ketika ada yang bersin, buang ingus atau dahak sembarangan. Saat ini ada sisi positifnya lebih menjaga kebersihan itu. Ini artinya merupakan edukasi yang sangat radikal tak  ada lagi yang buang ingus, dahak sembarangan dijalanan, jika pun ada pasti orang akan mengingatkan, inilah semangat gotong –royong saat ini,” ucap Kharis dalam Forum Diskusi Publik dengan tema “Protokol Isolasi Mandiri dan Peran Serta Dukungan Masyarakat,” secara virtual yang digagas Ditjen IKP Kominfo dan DPR RI, Sabtu (17/7/2021).

Gotong royong juga kata Kharis adalah ciri kehidupan bangsa Indonesia, oleh karenanya harus mampu melakukan gotong royong ditempat lingkungan dan sekitarnya dan menjadi sesuatu yang baik dan sangat penting agar keluar dari pendemi.

Kharis menghimbau pola kebiasaan hidup bersih dengan 3M atau 5M harus tetap dijaga dilingkungan masyarakat dengan adanya peran serta RT/RW.

Staff Ahli Menkominfo, Prof Henri Subiakto menyatakan sepakat bahwa peran aktif seluruh elemen masyarakat untuk secara bersama-sama bergandengan tangan menangani pandemi Covid-19.

“Spirit gotong- royong sebagai peran aktif masyarakat menangani pandemi ini adalah tanggung jawab kolektif, tanggung jawab pribadinya menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga pola hidup bersih,” ujar Prof Henri.

Prof Henri menambahkan bahwa saat ini masyarakat betul dalam kondisi lelah, jenuh bahkan mendekati frustasi dalam menghadapi pandemic Covid-19. Hal ini menimbulkan banyak yang tidak percaya, tidak patuh, tidak sabar, tidak bisa menerima keadaan, menyalahkan pihak lain, ingin beraktivitas seperti biasa, mementingkan ekonomi tetapi mengabaikan protokol kesehatan.

“Namun demikian kewajiban tiap individu yang tidak boleh diabaikan saat ini adalah bagaimana menjalankan protokol kesehatan secara ketat sebagai tameng terdepan dalam mencegah penyebaran Covid-19, selain peran serta masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungannya,” tegasnya.

Prof Henri juga mengajak semua pihak untuk berbuat baik kepada sesama ditengah pandemic Covid-19.

“Berbuat baiklah kepada tetangga dan siapapun karena kebaikan itu akan kembali kepada kita tetapi sebaliknya jangan meracuni dengan menyebarkan hoak karena sama aja meracuni diri kita dan keluarga,” tandasnya.

Jubir Satgas Covid-19 RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto menegaskan tingginya angka kasus terkonfirmasi Covid-19 tidak perlu diperdebatkan dan menyalahkan siapa pun, yang perlu dilakukan adalah secara bersama-sama berperan aktif.

Tonang juga menjelaskan syarat isolasi mandiri (Isoman) yang perlu diketahui sebagai edukasi bagi masyarakat adalah pertama adalah kesiapan fisik lokasi atau rumah, kesiapan mental dan mendeteksi gejala dan tanda dengan membuat catatan sendiri seperti mulai gejala kapan, berapa suhu tubuh dan saturasi. Berikutnya adalah kesiapan pengawasan dan bantuan fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan, serta kesiapan lingkungan sekitar.

“Situsasi saat ini tidak biasa – biasa tetapi kita harus tetap biasa saja, tetap menjaga silaturahmi dan semangat gotong-royong kita melewati pandemi ini,” tandasnya. (ONE) | Foto: Istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here