Pemilu dan Masa depan kepemimpinan Nasional .( Inggar Saputra )

 

beritakin.com Apa makna penting dalam proses pemilu sebagai sarana seleksi kepemimpinan nasional? Dalam negara demokrasi, pemilu adalah mekanisme seleksi kepemimpinan yang legal formal dalam upaya menjalankan kehidupan politik di sebuah negara. Pemilu jadi ajang menguji sejauhmana eksistensi sebuah negara mampu mengembangkan kehidupan politik yang demokratis. Jika ingin merebut kekuasaan, mekanisme pemilu dijadikan sarana tepat merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Terkait kekuasaan, kita memahami berkuasa adalah tujuan dan makna eksistensial dari berpolitik itu sendiri. Orang mendirikan partai politik sebagai sarana berjuang mempertahankan ideologi yang diusung dan alat strategis merebut kekuasaan. Ketika sudah berkuasa, tinggal bagaimana individu dan kelompoknya memanfaatkan kekuasaan yang diperolehnya. Apakah mampu mengelola kekuasaan untuk kepentingan rakyat atau sibuk mendominasi kekuasaan untuk melegalkan ambisi politiknya dan kepentingan pribadinya. Apapun tujuan berpolitik, pemilu dinilai sebagai sistem yang legal mencapai apa yang diinginkan individu dalam berpolitik.

Maka terasa aneh jika ada seorang akademisi yang tidak mau bersusah payah dan mengucurkan keringat membuat partai politik, tidak merasakan susahnya mencapai tujuan politik, justru menumpang dukungan untuk maju jadi pemimpin nasional. Ini membuktikan mentalitas instan dalam berpolitik, dan kita berdoa ini yang terakhir terjadi dalam kehidupan negara kita yang semakin demokratis. Kita butuh pemimpin yang berproses, memiliki ambisi kekuasaan dengan legalitas-formal yang jelas, serta tak sibuk bicara etika secara luas tanpa bercermin apakah dirinya sudah menjalankan etika dalam cara berpolitiknya. Bagaikan kata bijaksana, hati hati memercik air nanti mendulang ke muka sendiri. Inilah pelajaran pertama dalam pemilu presiden 2024 bahwa jika ingin sukses berpolitik, berhentilah memakai cara instan dan mulai merintis karir politik baik dengan mendirikan partai politik, menjadi kader partai politik dan berkontestasi dalam dinamika kehidupan di partai politik.

Pelajaran kedua, betapa masih kurangnya teladan kesadaran berpolitik santun dalam demokrasi di Indonesia hari ini. Memang sampai detik ini, polarisasi kita tak setajam pemilu presiden 2019, tapi munculnya upaya politik identitas masih mengental dalam sistem kehidupan politik kita sehingga berbeda pilihan seringkali jadi bahan cacian di kehidupan dunia maya. Padahal sebagai sebuah kompetisi politik, perbedaan perspektif politik adalah kewajaran dalam kehidupan negara yang demokratis. Makna berbeda pandangan politik jangan dianggap saudara sebangsa dan setanah air musuh, tapi dijadikan dinamika yang biasa dalam tradisi berdemokrasi.

Pelajaran ketiga, pentingnya politik dengan gagasan dan kita bersyukur masing-masing calon pemimpin bangsa sudah mempopulerkan tradisi berfikirnya melalui debat kandidat yang diadakan KPU. Tak dipungkiri, kita merasakan belum puas atas paparan yang ada dan disampaikan para capres-cawapres, tapi perlu kita ingat mereka sudah maksimal membagikan kue gagasannya ke publik. Justru yang dinanti apakah paska pilpres 2024 dan terpilih, apakah mereka secara serius mampu menyeimbangkan komitmen antara kata-kata dan tindakan. Bagaimanapun kita merindukan keseriusan mereka memenangkan gagasan yang dibuat dalam alam pikiran nyata menyambut Indonesia Emas, Unggul dan Maju. Inggar Saputra.12/2/24,KIN

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button