Menkominfo: Pentingnya Literasi Menangkal Disinformasi Hoaks Ditengah Pandemi

Ilustrasi.

Jakarta – Staff Ahli Menkominfo, Prof., Dr., Drs. Henri Subiakto S.H., MA menyampaikan kesalapahaman atau disinformasi seputar  Covid-19, baik itu virus, vaksinasi, termasuk kebijakan pemerintah melalui PPKM yang sangat masif saat ini dinilai dapat menghambat penanganan pandemi.

Oleh karena itu, Henri mengungkapkan, literasi kenapa menjadi penting ditengah disinformasi ketika orang tidak percaya dengan Covid-19, dokter, rumah sakit bahkan pemerintah.

“Dari 202,6 juta pengguna internet di Indonesia, persentasenya 83,6 persen media sosial paling popular untuk menyampaikan informasi protokol kesehatan dan pentingnya pencegahan Covid-19. Dan media sosial juga menjadi penyumbang terbesar dalam konten hoaks terkait Covid-19, yakni 1.163 konten hoaks,” ujar Prof Henri dalam Seri Forum Diskusi Publik dengan tema “Budaya Literasi Menangkal Disinformasi Seputar Covid-19” yang digelar, Sabtu (10/7) lalu.

Salah satu narasi hoaks  adalah bahwa yang positif Covid-19 banyak yang meninggal di rumah sakit ketimbang dirumah atau diluar rumah sakit,  Prof Henri menegaskan bahwa adalah salah satu contoh disinformasi dan hoaks.

“Tidak ada satu pun negara yang mempunyai pengalaman yang memadai dalam menangani Covid-19, semuanya dalam proses belajar. Vaksin pun terus berkembang sesuai dengan pemahaman virus itu sendiri,” tambah Henri.

Dalam webinar ini selain Staff Ahli Menkominfo, Prof Henri Subiakto, dan dua narasumber lainnya, yakni Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dr., H. Abdul Kharis Almasyhari dan dr Tonang Dwi Ardyanto SpPK., PhD., FISQua selaku Juru Bicara Satgas Covid-19 RS UNS.

Dijelaskan Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) ini, diakuinya, bahwa masyarakat pun betul dalam kondisi lelah, jenuh bahkan mendekati frustasi dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Hal ini menimbulkan banyak yang tidak percaya, tidak patuh, tidak sabar, tidak bisa menerima keadaan, menyalahkan pihak lain, ingin beraktivitas seperti biasa, mementingkan ekonomi tetapi mengabaikan protokol kesehatan. Namun demikian kewajiban tiap individu yang tidak boleh diabaikan saat ini adalah bagaimana menjalankan protokol kesehatan secara ketat sebagai tameng terdepan dalam mencegah penyebaran Covid-19,” urainya.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi I DPR, Abdul Kharis Almasyhari, menyatakan perlunya literasi dalam menangkal hoaks yang berkembang ditengah masyarakat yang masif.

Kharis juga menegaskan bahwa Covid-19 itu ada dan nyata hal ini dialami keluarganya sendiri yang terpapar dan baru-baru ini ibunda tercinta meninggal dunia terpapar Covid-19.  “Bahwa Covid-19 dekat dengan kita dan bukan rekayasa, hal ini seperti apa yang saya alami, kemarin ibunda tercinta meninggal dirumah karena terpapar,” ucap Kharis.

Oleh karena itu dia meminta agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) dr Tonang Dwi Ardyanto menerangkan, masyarakat sepatutnya memilah informasi yang beredar di dunia maya. Dengan cara berimbang dan akan lebih baik melakukan verifikasi informasi dari sumber terpercaya.

Masyarakat juga harus selalu mencari fakta atas informasi dengan berlandaskan pada bukti-bukti ilmiah. Jauhi berita atau informasi yang sumbernya tidak kredibel.

Masyarakat baiknya menjauhi sumber yang tidak jelas asal-usulnya. Dan lakukanlah verifikasi melalui kanal resmi penanganan Covid-19 atau melalui berita di media massa.

Tonang menyebut untuk menekan penyebaran Covid-19 jangka pendeknya adalah dengan menerapkan protokol kesehatan yakni mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak (3M). asa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here